‎​Probolinggo,cakramedianews.com- Di tengah dominasi komoditas besar seperti sawit dan nikel, ekspor Indonesia dikejutkan oleh dua sayuran yang jarang dilirik di pasar lokal edamame dan okra. Kedua komoditas ini, alih-alih hanya menjadi pelengkap di warung sayur, kini justru menjadi langganan tetap supermarket di Jepang, Amerika, dan Eropa.

‎​Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut kisah sukses ini bukan semata-mata karena jenis sayurannya, melainkan karena model bisnis yang diterapkan di daerah sentra produksi.

‎​​Di Jember, sistem kontrak yang mengikat petani lokal dengan pabrik pengolahan menjadi kunci utama. Model ini menjamin :

‎1. ​Kepastian Harga dan Pasar: Petani bisa fokus pada budidaya karena harga dan pasar sudah disepakati di awal.

‎2. ​Kualitas Standar Global: Kemitraan ini memastikan produk Indonesia mampu bersaing ketat dengan Thailand atau China.

‎​Okra, sayuran yang sering dianggap “sayur orang tua,” juga sukses menembus pasar global berkat teknologi. Tren healthy food yang tinggi di luar negeri ditopang oleh teknologi pembekuan cepat (quick freezing). Teknologi ini mampu mempertahankan kesegaran okra hingga berbulan-bulan, mengatasi kendala logistik pengiriman jarak jauh.

‎​Ekosistem Win-Win Solution di Daerah
‎​Inti dari kisah sukses ini adalah keberadaan pabrik pengolahan di daerah sentra produksi. Model ini menciptakan ekosistem win-win solution yang menguntungkan semua pihak:

‎1. ​Petani : Mendapat kepastian pasar dan harga yang stabil.

‎2. ​Pekerja Pabrik : Tercipta lapangan kerja dan pendapatan reguler.

‎3. ​Negara : Produk olahan Indonesia mendapatkan tempat terhormat di rak luar negeri.

‎​”Kehadiran pabrik pengolahan di daerah sentra produksi menciptakan ekosistem yang menguntungkan semua pihak,” ujar Mahendra Utama.

‎​Meski sukses, Mahendra Utama mengingatkan bahwa potensi ini masih “mentah” dan perlu didorong lebih jauh. Ia menekankan perlunya intervensi untuk meningkatkan bargaining position Indonesia di pasar global:

‎* ​Pemerintah : Perlu didorong riset untuk varietas unggul dan teknologi budidaya yang lebih efisien.

‎* ​Sektor Swasta : Harus berani berinvestasi pada infrastruktur pascapanen.

‎​Jika model Edamame dan Okra yang fokus pada kualitas (bukan sekadar kuantitas) ini dapat direplikasi pada komoditas minor lain seperti buncis, paprika, atau asparagus, Indonesia berpotensi menjadi pemain pangan global yang jauh lebih kuat. ( Fabil )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *